I can’t be perfect
Wednesday, July 27th, 2005‘Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be perfect
Now it’s just too late and
We can’t go back
I’m sorry
I can’t be perfect
‘Cuz we lost it all
Nothing lasts forever
I’m sorry
I can’t be perfect
Now it’s just too late and
We can’t go back
I’m sorry
I can’t be perfect
Maaf, Pak…karna saya menulis apa adanya Bapak menulis..Tanpa gelar Profesor Bapak. Waktu mengedit saya salut, Bapak rendah hati dan berpikir sama dengan saya, bahwa Profesor hanya penghargaan dunia ini pada kita. Penghargaan akan jiwa kita seperti yang diberikan oleh Allah lebih kekal dari apapun yang di dunia kan?
n.b. : salut untuk Prof. Ir. Johan Silas dan para mahasiswanya yang sampai saat ini tetap memanggil "Pak Silas"
Meta mo merid ama org Jerman (tapi maap, aku gak bisa datang karna ada acara weekend di Salatiga), Septi merid ama org Prancis dan skarang ada di Prancis, Ata’ merid ama Arip (pasti persis dengan apa yang diimpi2kannya selama ini), si A udah jadi manajer, si B udah punya anak dan suami pengusaha, si X udah jadi arsitek beneran di konsultan yang oke buanget, si itu udah punya perusahaan sendiri, si ini udah naek mobil impianku, si anu lagi nunggu anaknya lair….Saya? masih di lab kota dengan gaji yang biasa2 aja, tiap hari naek Honda Supra keluaran 6 taon lalu, masih nebeng di rumah orang tua, jomblo, dan selalu jawab belom tau kalo ditanya kapan mo nikah… Tapi Allah sedang membentuk saya, tidak sama dengan orang lain, bukan dengan standar yang sama seperti yang ditetapkan oleh dunia, tetapi dengan kemuliaan yang sama seperti yang telah dirancang-Nya, bahkan sejak saya di dalam kandungan… Terima kasih, Tuhan…untuk memilihku
hari ini saya mau membagi tentang apa yang saya nikmati belakangan ini. dulu seringkali saya berpikir, bagaimana Tuhan akan membentuk saya..dengan persekutuan jelas, dengan PA (pemahaman Alkitab), dengan kegiatan2 navigator jelas..Pernah saya mendapatkan suatu kalimat yang berbunyi : "Tuhan bicara lewat banyak orang, banyak mulut, dan banyak peristiwa..Saya tau itu kalimat klise tapi benar, tapi belum pernah saya sadari secara langsung. Beberapa hari lalu, saya belajar langsung mengenai ketaatan melalui sebuah peristiwa. dalam segala hal. ketaatan anak pada orang tua, ketaatan istri pada suami, dan di atas segala-galanya adalah ketaatan seseorang pada Allah. Betapa tidak, saya membayangkan seandainya seorang istri tidak taat pada suaminya yang juga tidak taat pada Allah, betapa sebuah kursi bisa saja melayang ke kepala sang istri. Jika seorang anak tidak taat pada orang tuanya yang juga tidak taat pada Allah, ah…tidak tau apa jadinya saat itu…Ah…betapa saya semakin merindukan-Nya, betapa saya semakin ingin belajar ketaatan pada-Nya. Saya jadi tahu, ketika Siska bicara tentang bagaimana Allah mengarahkan hidup saya, Ia tidak langsung menunjukkan kepada saya dimana tempat yang Ia sediakan untuk saya, tetapi saya harus mulai belajar satu demi satu dulu. Sekarang, saya sedang membayangkan, saya baru saja diperintahkan Allah untuk belok ke Jl Taat, memahami jalan itu, sampai Ia memerintahkan saya untuk belok ke jalan berikutnya. Ah…betapa saya tidak ingin berhenti belajar…Betapa saya sedang menikmati apa yang Allah ajarkan saat ini tentang ketaatan. Tidak sabar saya menunggu pelajaran berikutnya. Ayo belajar ketaatan…