Apa Kabar, Putri?
Tuesday, November 18th, 2008“kak…kangen…”
“Ada apa, Putri? bagaimana hidupmu akhir-akhir ini? masih sering ngobrol dengan Ayah, bukan?”
“emmm…sibuk kak…o ya, kak..maafkan aku tidak sempat datang ke acara kakak kemaren itu…aku terlalu sibuk sampai lupa hari, tiba-tiba saja sudah terlewat”
“Ada apa, Putri? aku mendengar suaramu tidak seperti biasanya…kamu terdengar sedih…Bagaimana kabar laki-laki itu?Masih kau bertemu dengannya?”
“Kemarin kami baru saja bertemu, kak…”
“Lupakan saja dia, Putri…mempertahankannya hanya akan membuatmu sakit”
“Bagaimana kalau menetralisir hati, kak? Tidak sanggup aku untuk tiba-tiba tidak bertemu dengannya seumur hidupku…”
“Ah…kamu harus bisa, Putri…kebaikannya yang terus menerus mengisi kekosongan hidupmu hanya akan semakin menjaukan engkau dari dia yang sesungguhnya ditakdirkan untukmu…mungkin ada baiknya engkau mendiskusikan itu dengan Ayah…”
“Ah…aku malu untuk membicarakannya dengan Ayah”
“Ayah kita itu baik, Putri..Ia tidak akan membiarkan kita bersedih…Ia akan mendengarkan kita dan memberikan solusi terbaik untuk kita..yang perlu engkau lakukan hanya berbicara dengan terbuka dan yakin bahwa Ayah akan menolongmu”
“mmm…iya, kak..baiklah…”
“Tapi suaramu terdengar lebih sedih daripada itu, Putri..Ada apa?”
“mmm…kak, aku hanya merasa semakin tidak kenal dengan diriku sendiri..”
“Sungguh…begitu dalam kesedihan yang aku dengar. Ceritakan saja, Putri. Mungkin akan terasa lebih ringan bagimu, walaupun aku tidak dapat memberikan solusi apapun. Setidaknya aku dapat mendoakanmu.”
“Kak, ini hal yang lain…aku jatuh lagi…segenap akal dan pikiranku mengetahui setiap detil kebenaran..tapi aku lemah kak…badanku dikuasai perasaan yang melampaui akal sehat yang selama ini selalu aku bangga-banggakan itu. Aku jatuh kak…terpuruk..”
“Putri, bersyukurlah engkau masih menyadari kebenaran itu. bersyukurlah bahwa masih ada waktu untukmu kembali. Carilah aku, carilah kakak sulung kita, carilah siapapun yang menjadi bagian dalam keluarga kita, yang memiliki jiwa yang sama. Jangan kau tersesat, Putri…Aku sangat sedih mendengar suaramu begini…Dan jangan lupa, Putri, kita masih punya Ayah yang sungguh mengasihi kita…Pergilah dan carilah perlindungan padanya. Ingat Putri, bagaimanapun jiwamu tetap berharga di hadapannya…Aku mengasihimu, Putri…”
“Terima kasih, kak…”